Let's Plant a Tree

5 Tips Singkat dalam Mengajarkan Toilet Training

5
Tips Singkat dalam Mengajarkan Toilet Training
Sumber: freepik.com

Apakah ada di antara sobat parents yang mengalami kesulitan dan tidak tahu harus mulai dari mana untuk Toilet training si kecil?… tenang, hal ini wajar dan terjadi pada semua sobat parents newbie seperti saya. Pada kesempatan kali ini saya akan membagikan tips dan trik yang sudah saya lakukan dan berhasil selama seminggu dalam melakukan toilet training pada anak saya , Arya. Saya ingin membagikan Parenting Story yang sudah dilakukan, khususnya tentang Toilet Training. Tapi sebelumnya perlu diingat bahwa tips dan trik ini tidaklah mutlak akan berhasil pada setiap anak, karena perkembangan setiap anak berbeda, mungkin sobat parents bisa mencobanya, dan semoga berhasil ya.

Seperti yang dilansir oleh artikel dari Klik dokter Toilet training adalah bentuk pelatihan kepada anak agar dapat buang air besar (BAB) dan buang air kecil (BAK) pada tempatnya. Hal ini terlihat mudah namun dalam pelaksanaannya diperlukan kesabaran dan komitmen. Satu hal lagi antara Ibu, Ayah, dan orang/keluarga yang ikut mengasuh si kecil sevisi dan paham tentang toilet training.

Dilansir pada artikel Ibupedia Umumnya, semakin kecil usia anak saat memulai toilet training, akan semakin lama waktu yang dibutuhkan. Maka dari itu perlu bagi sobat parents ketahui kapan waktu yang tepat bagi si kecil untuk memulai toilet training[1]Ismawati. “6 Cara Mengajarkan Anak Toilet Training“, https://www.ibupedia.com/artikel/balita/6-cara-mengajarkan-anak-toilet-training, diakses pada 10 Juli 2021. Dilansir dari artikel Klik dokter, saraf dan otot yang mengatur keluarnya tinja dan urine baru matang setelah anak mencapai usia 18-24 bulan[2]Fahlevi, Reza. 2020. “Kiat Tepat Toilet Training untuk Anak“, https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3131420/kiat-tepat-toilet-training-untuk-anak, diakses pada 10 Juli 2021. Maka sebaiknya dilakukan saat anak berumur 1,5 tahun. Arya mulai melakukan toilet training saat umurnya 2 tahun 3 bulan.

5 Tips Singkat dalam Mengajarkan Toilet Training pada anak
Sumber: freepik.com

Arya mulai melakukan toilet training ketika saya menyadari tanda-tanda yang terlihat bahwa Arya siap untuk toilet training, yaitu ia terlihat tidak nyaman menggunakan pampers. Pampers yang digunakan ketika malam hari umumnya masih kering di pagi hari, Arya mampu menahan tidak buang air kecil (BAK) selama 2 sampai 3 jam, selain itu Arya sudah mampu merasakan dorongan buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB) dengan mengucapkan pada Ibu dan Ayahnya. Walau terkadang kebablasan, tetapi beberapa kali pelatihan, ia sudah mulai terbiasa dan secara otomatis akan ke kamar mandi jika dorongan itu mulai muncul.

Sebelum melakukan toilet training, Arya sering mengamati kedua orang tuanya ke kamar mandi untuk buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB). Hal ini diperkirakan menjadi trigger baginya untuk melakukan hal yang serupa seperti kedua orang tuanya lakukan.

Dalam melakukan proses toilet training, Arya termasuk anak yang perkembangan toilet training-nya cepat, saya hanya membutuhkan waktu seminggu hingga ia benar benar bebas menggunakan pampers di siang dan malam hari, bahkan saat di luar rumah. Selain itu Arya juga tidak memerlukan tools yang banyak seperti potty toilet untuk mendukung toilet training-nya dan toilet yang digunakan adalah toilet jongkok, agar ia terbiasa nantinya dengan toilet jongkok. Dilansir dari Artikel Alodokter, toilet jongkok jauh lebih sehat dan higienis dibandingkan toilet duduk[3]Kevin Adrian. 2019. “Mana yang Lebih Sehat, Toilet Jongkok atau Toilet Duduk“, https://www.alodokter.com/mana-yang-lebih-sehat-toilet-jongkok-atau-toilet-duduk, diakses pada 10 Juli 2021.

Hal-hal inilah yang saya terapkan untuk Arya dalam toilet training:

1. Melatih Kebiasaan

Hal yang dilakukan dalam melatih kebiasaan bagi Arya hanyalah perlu mengajak si kecil untuk langsung ke kamar mandi tanpa bertanya. Sobat parents perlu mengajak si kecil selama satu sampai dua jam sekali ke toilet dan mulai mengajarkan untuk buang air kecil (BAK) dan bagaimana membuka celananya. Saran saya untuk anak laki-laki akan lebih baik jika Ayah yang mencontohkannya karena si kecil akan mengamati dan terdorong untuk melakukannya, alasan lainnya karena struktur anatomi mereka sama dibandingkan milik Ibu. Hal ini perlu konsisten dilakukan, terutama di malam hari perlu dilakukan sebelum tidur dan setelah bangun tidur.

2. Mulai Lepas Pampers di Siang Hari hingga Malam Hari

Proses ini membutuhkan kesabaran tingkat tinggi, karena proses ini trial and error-nya cukup banyak. Artinya awal-awal si kecil dilepaskan pampers-nya akan sering terjadi insiden buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB) di celana ketika sobat parents lupa untuk mengingat toilet time si kecil, namun tenang sobat parents hal ini wajar, dari kebiasaan yang dilakukan si kecil akan belajar dan mulai menyadari hal yang berbeda dalam tubuhnya dan mulai melakukan untuk kenyamanannya. selanjutnya ketika malam hari, Arya juga sudah tidak memakai pampers dan ini berhasil pada hari kedua. Begitu pun saat bepergian, kami menghindari penggunaan pampers untuk membuat Arya tidak bingung dan menghindari ngompol di celana.

3. Memvalidasi Keinginan Buang Air Kecil (BAK) dan Buang Air Besar (BAB)

Ketika Arya mulai jongkok dan memperlihatkan ekspresi mengejan, di sana kami memvalidasi perilaku yang Arya lakukan padanya, kami mengatakan bahwa “ Arya sedang buang air besar, ayo ke toilet” begitupun ketika buang air kecil. Dengan memvalidasi setiap dorongan untuk BAK dan BAB secara kontinu pada si kecil, mereka akan paham dengan kondisi tubuhnya sehingga tahu apa yang seharusnya dilakukan pada saat itu bahkan sebelum dorongan itu akan keluar.

Baca juga: 11 Alasan Anak Perlu Sedari Dini Diperkenalkan dengan Alam

4. Menggunakan Celana yang Longgar

Saat kami komitmen dan menyadari bahwa Arya siap melakukan toilet training, kami membiasakan Arya untuk menggunakan celana yang longgar. Hal ini dilakukan untuk menghapus memori kebiasaannya ketika menggunakan pampers. Kita ketahui bersama struktur dan tekstur pampers itu sempit, tebal, dan ketat. Maka dari itu perlu diperkenalkan pada celana yang lebih longgar sehingga ketika proses toilet training berlangsung hal ini akan cepat menyadarkan si kecil bahwa mereka tidak bisa lagi BAK dan BAB di pampers karena sudah menggunakan celana yang longgar. Hal ini juga berlaku untuk anak yang memakai popok kain clodi. Tekstur popok kain clodi hampir menyerupai pampers, hanya saja pemakaiannya dapat berulang kali. Jadi ketika si kecil mulai toilet training, maka sudah saatnya popok kain clodi diganti dengan celana biasa yang longgar dan tidak tebal.

5. Memberikan Reward Ketika Berhasil

Reward yang diberikan ketika Arya berhasil BAK dan BAB di toilet adalah dengan ucapan selamat dan tepukan tangan, dengan hal ini si kecil akan merasa bahwa yang dia lakukan telah membuat orang tuanya senang dengan menunjukkan ekspresi ceria dan hal ini membuat ia nyaman melakukannya. Tak jarang juga kami memberikan euforia keberhasilan dengan high five.

Bagimana pun proses toilet training yang sobat parents lakukan tetaplah melihat kesiapan si kecil dan kesiapan sobat parents, karena keberhasilan toilet training adalah kombinasi dari keduanya dengan rasa sabar, konsisten, dan komitmen yang kuat. Jika belum menunjukkan hal itu tidak perlu tergesa-gesa, karena jika dilakukan tergesa-gesa hal ini tidak baik bagi perkembangan anatomi perkemihan si kecil dan mentalnya begitu pun juga untuk kesehatan mental sobat parents, jadi bersabarlah.

Jika terasa sudah berhasil namun suatu ketika ternyata ada “insiden”, jadi sobat parents merasa ada kegagalan disana, jangan khawatir dan tanggapi dengan santai. Tidak perlu juga memberikan hukuman atau menyudutkan si kecil karena hal ini akan menimbulkan trauma baginya sehingga ini pun tidak baik bagi perkembangan si kecil.

REFERENSI

REFERENSI
1 Ismawati. “6 Cara Mengajarkan Anak Toilet Training“, https://www.ibupedia.com/artikel/balita/6-cara-mengajarkan-anak-toilet-training, diakses pada 10 Juli 2021
2 Fahlevi, Reza. 2020. “Kiat Tepat Toilet Training untuk Anak“, https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3131420/kiat-tepat-toilet-training-untuk-anak, diakses pada 10 Juli 2021
3 Kevin Adrian. 2019. “Mana yang Lebih Sehat, Toilet Jongkok atau Toilet Duduk“, https://www.alodokter.com/mana-yang-lebih-sehat-toilet-jongkok-atau-toilet-duduk, diakses pada 10 Juli 2021

Tentang Penulis

Putri Ariyanti

Ibu rumah tangga merangkap guru keliling area Denpasar dan sekitar.

3 Komentar

Let's Plant a Tree

Putri Ariyanti

Ibu rumah tangga merangkap guru keliling area Denpasar dan sekitar.

Get in touch

Sekarang kita ada dalam revolusi teknologi. Bahkan saat ini tren memberikan kasih sayang, dan perhatian sudah bergeser tidak lewat ekspresi melainkan lewat ujung jari. Lewat like, double tab, dan juga subscribe