Let's Plant a Tree

Ikhlas dan Bersyukur

I

Ikhlas dan bersyukur, dua hal yg sangat mudah terucap tapi implementasinya melebihi kesulitan soal-soal kalkulus.

Wajahnya selalu menunjukkan keceriaan tanpa beban, memiliki selera humor dan gesture tubuh yang menghibur ketika dia berbicara dan mulai bercerita. Tanpa kuketahui dibalik wajah ceria itu tersimpan duka lara dari cobaan yg bagiku yg mendengarnya sangat berat, mungkin sudah dia lakoni dari sejak lahir.

Dia tak banyak tingkah, orangnya supel, dan humble, tidak neko-neko seperti pak eko diseberang toko. Sangat terbuka dengan berbagai masukan dan selalu menerima apapun yg orang skitarnya katakan. Satu hal yang buat aku gemas padanya, dia enggan utk speak up tentang apa yg dia inginkan dan dia rasa, orangnya kurang percaya diri yang buat ia minder sendiri. Aku selalu mengompor-ngompori utk speak up dan bersuara lantang tentang apa yg dia rasa dan inginkan. Aku sangat paham dengan posisi dan kondisi seperti itu, karna aku pernah diposisinya, dan aku butuh waktu utk akhirnya berani berbicara lantang, aku rasa juga ia.

Mendengar ceritanya tadi, perasaanku merasa teriris, mungkin karna statusku yg sudah menjadi orang tua kini, aku berpikir kenapa ada orang tua yg tega sperti itu, menganggap anak adalah investasi bagi orang tuanya dimana disaat orang tua sudah uzur dan tua, mereka bisa bersandar dan bernaung dengan anak-anaknya, biasanya kita orang asia pola pikirnya sperti ini, apalagi di Bali yg menganut sistem patrialis, anak laki-laki/purusa musti tinggal drumah tua bersama orang tua, biasanya. Tujuannya utk meneruskan dan melanjutkan keturunan yg akan menjalani kewajiban dan haknya nanti, di bangunan tanah itu. Smoga generasi alpha tidak merasakannya dan tidak menjadi generasi sandwich kedepannya.

Satu hal yg orang tua musti pahami, ketika anak mereka rawat dengan penuh cinta kasih tanpa pamrih, tanpa diminta anak akan dgn sukarela utk membantu orang tuanya diusia tua nanti, tapi apa jadinya jika saat anak membutuhkan cinta kasih yg tulus ikhlas dari kedua orang tuanya tak ia dapatkan disaat usia si anak lagi membutuhkan hal tersebut. Apakah anak pantas dikatakan durhaka disaat ia muak dgn tingkah ortu nya yg toksik sedari dulu atau tetap apapun yg ortu lakukan pada anaknya, jgn dilawan dan mencoba utk ikhlas utk memaafkan dan melanjutkan kehidupan tanpa merasa pernah terjadi apapun, tidak semudah itu ferguso!

Miris sungguh miris mendengarnya, aku walau tidak tau bagaimana berada di lingkungan keluarga toksik yang orang tuanya sudah tercerai berai, sangat berempati dengannya stelah mendengar cerita tersebut, bahkan ia hampir gila dibuatnya. Keluarga dimana ada orang tua yang merupakan orang dan tempat yang membuat aman dan nyaman malah membuat perasaan negatif timbul berhamburan, yang membuat kita utk menjauhi bahkan tidak mau dipertemukan, apa yg musti dilakukan oleh si anak jika seperti itu, ia tidak menemukan kedamaian, keamanan, dan kenyamanan karna orang dan tempat yg ia ekspetasikan dapat menciptakan hal tersebut malah mengkhianatinya sebagai orang tua. Kemana si anak musti bernaung dan berlindung. Ini bukan masalah perceraian ortunya saja, tapi juga ia dianggap anak yg musti mengikuti kehendak orang tuanya karna telah melahirkan dan membesarkannya. Tapi tidak jarang ia dilupakan bahkan dianggap tidak ada disaat orang tuanya menemukan kebahagiannya masing-masing, dan peeselisihan antara keluarga bapak dan keluarga ibunya yang membuat posisinya bagai buah simalakama.

Disini kusadari, aku musti banyak banyak bersyukur bahwa masih banyak dluar sana yg nasibnya tidak seberuntung kita, masih banyak diluar sana yg haus akan kasih sayang keutuhan kluarganya. Memang sakit fisik mudah sembuh dan tak berbekas, tapi sakit psikis itu tak nampak dan berbekas meninggalkan trauma. Tampak baik-baik saja, tapi jauh dilubuk hatinya terdalam ia butuh pertolongan, jiwanya rapuh akibat dikikis oleh ortu dan lingkungan kluarga yg toksik.
Dengannya aku sperti menemukan sosok sahabatku yg kini tinggal diseberang pulau, ia mengingatkanku akannya. Itu yang buat aku nyaman dan itu pula yg buat aku bingung utk memutuskan kedepannya, karna susah rasanya menemukan orang yang satu spesies spertinya.
Apapun itu smoga nanti kedepannya kmu bisa bahagia ya sobat, menemukan kebahagianmu yang sejati, karna dr lahir kmu sudah mengalami penderitaan, dan lebih berani utk berbicara lantang, lugas, dan tegas.
Aku tau smua orang punya masalahnya masing-masing dan semua orang memiliki cara sndiri utk menyelesaikannya, aku sangat bangga dan speechless dengan ceritamu yang terlihat tanpa beban, masih bisa ketawa dan tidak berada dijalan yg salah, karna keluarga broken home identik dengan anak-anaknya bergaul dgn lingkungan yg negatif . Kutau juga bahwa hal ini tidak terlepas dari roda karma yang tidak mengenal waktu dan tempat, berputar tanpa permisi mnuju tuannya. Jadi selama menjadi manusia teruslah menanam/menabung karma baik, utk kehidupan yg lebih baik.

Hi sobat, yang kuat ya, masalahmu ternyata seberat itu, tidak sperti kami yg mudah mengeluh disaat ekspetasi tidak sesuai dengan realitas yang ada. Smoga kamu dapat melewatinya dan mencapai puncak untuk naik kelas menjadi lebih ikhlas dan bersyukur, bukan kamu saja tapi kita.πŸ‘πŸ˜‰

Dari sobat bro mu yang punya mata panda ini❀️😎

Tentang Penulis

Putri Ariyanti

Ibu rumah tangga merangkap guru keliling area Denpasar dan sekitar.

Tambah Komentar

Let's Plant a Tree

Putri Ariyanti

Ibu rumah tangga merangkap guru keliling area Denpasar dan sekitar.

Get in touch

Sekarang kita ada dalam revolusi teknologi. Bahkan saat ini tren memberikan kasih sayang, dan perhatian sudah bergeser tidak lewat ekspresi melainkan lewat ujung jari. Lewat like, double tab, dan juga subscribe